SETIAP LANGKAH ADA CERITA DAN SETIAP CERITA ADA JEJAK DAN SETIAP JEJAK MENYIMPAN KENANGAN

Viw Epang Bua Nusa Tenggara Batar ( NTB )   Empang Bua, adalah salah satu desa di kecamatan moyo hulu Sumbawa ( NTB) dengan jarak temp...

Sumbawa, Empang Bua Nusa Tenggara Barat ( NTB )

Viw Epang Bua Nusa Tenggara Batar ( NTB )  

Empang Bua, adalah salah satu desa di kecamatan moyo hulu Sumbawa ( NTB) dengan jarak tempuh perjalan kaki sekitar 4-5 jam.
untuk bisa sampai di jalur utama menuju desa empang bua, kita harus melewati beberapa pemukiman yaitu desa kerekeh dan desa selang. 

nah dari desa selang inilah kita akan memasuki kawasan hutan.

trek untuk bisa sampai kelokasi Desa Empang Bua tidaklah mudah, rintangan dan tangtangan pasti selalu ada menjadi bunga-bunga kenangan dalam setiap perjalanan, tapi kalau memiliki jiwa petualang saya yakin hal apapun itu pasti bisa dilalui

untuk bisa sampai kedesa Empang Bua kita harus menempuhnya dengan jalan kaki, melewati hutan rimba, perbukitan yang terjal, dan yang tidak kala penting kita harus melewati 5 sungai yang sangat deras. 


sungai yang deras dan bebatuan yang besar 

Hal tersebut dikarenakan belum ada akses jalan yang bisa di lalui kendaraan, mungkin karena faktor geografis dan anggaran pemerintah yang belum masuk ke desa tersebut.

sebenarnya memakai sepeda motorpun bisa tapi disaat musih kemarau datang, tapi yaaaa... harus berani tanggung resiko yaa gan, soalnya di sepanjang perjalanan tidak akan anda dapatkan bengkel atau tukang servis hehehehe..... sedangkan trek yang anda harus lalui sangat-sangat extrim bangat, harus melalu 5 sungai dengan air yang begitu deras dan batu yang licin lagi tajam..hehehhe......belum lagi harus naik turun gunung, yaaa kalau remnya jebol ngak berfungsi yaa sudah bisa kita pastikan apa yang akan terjadi selanjutnya...heheh

tapi kalau baru pemula mau menuju desa Empang Bua, Saya sarankan anda lebih baik berjalan kaki lebih untuk mencari amannya gan.

sepanjang perjalanan anda akan mendapatkan banyak sekali pengalaman, karena alam yang masih begitu rimba pasti disana masih banyak hewan-hewan yang langka dan liar, seperti monyet, burung-burung,babi, rusah dah masih banyak lagi yang lainya. sebagai orang yang memiliki jiwa pecinta alam pasti kita memegang erat yang namanya kode etik pencinta alam dan kita pasti punya semboyan bahwa :


Bentuk Jalan menuju Empang Bua yang sangat-sangat rusak 

  • jangan mengambil apapun kecuali gambar
  • jangan meninggalkan apapun kecuali jejak
  • jangan membunuh apapun kecuali waktu.
tiga ini harus selalu kita pengan dengan erat, kalau memang kita merasa seorang yang cinta dengan Alam. 


sebelum kita sampai di pemukiman, kita akan melewati ladang warga yang hijau dengan pemandangan gunung, viw yang begitu sangat-sangat  indah, membuat sesak nafas berhenti seketika, rasanya semua lelah telah hilang dan terbayar, heheheeh... belum lagi udarah yang begitu segar membuat jiwa semakin tenang, ingin rasanya berlama-lama di tempat ini. 

tidak begitu jauh dari ladang warga, kita sampai di perkampungan, di sana kita akan menemukan beberapa deretan rumah yang sangat sederhana yang bahan dasarnya adalah kayu.

tapi kampung ini terasa sunyi mungkin karena penduduk yang menetap lebih banyak bermalam di ladang masing-masing menjaga serangan hewan buas yang merusak tanaman mereka. 

namun yang membuat saya begitu terkejut ketika melihat sebuah masjid sederhana yang di bangun yayasan peradaban Islam Ar-Rahman Qur'anic Learning Center.
dalam hati kecil saya berbisik, sunggu muliah agama islam sampai di pelosok desa sumbawah syiar suara islam masih terdengarkan dan terus berkumandang.


Foto Masjid AQL Islamic Center Desa.Empang Bua


di masjid inilah warga empang bua berkumpul melaksanakan sholat lima waktu dalam sehari semalam.

dikarena jarak yang begitu jauh dari perkotaan, maka untuk mencari sinar lampu listrik jagan harap anda akan mendapatkan di kampung ini gan, layaknya kalau para pendaki bermalam di alam rimba..hehehhehe


suasana malam di desa empang bua tanpa ada listrik dari pemerintah

tapi yang unik dari desa ini, meski jauh dari perkotaan, jaringan ponsel tidak ketinggalan ko gan, malah untuk internet pun kuat lo..heheh

kebiasaan warga memasak nasi atau makanan lainnya dengan menggunakan kayu bakar yang sudah kering, yang mudah kita dapatkan di sekitar hutan, nah buat kamu nie yang biasa berpetualang namun belum bisa nyalain api pakai kayu, sudah saatnya untuk belajar dari sekarang karena kamu tidak pernah tau apa yang akan terjadi ketika kita berpetualang di alam bebas. 

seuntai kisa saya, semoga bisa menambah wawasan kita semua, dan semoga ada yang tetarik untuk mengunjungi lokasi ini, karena sebenarnya masih banyak lagi yang harus saya tuliskan mulai peninggalan sejarah yang ada di lokasi tersebut  dan masih banyak lagi yang lain, cuma berhubung saya tidak memiliki foto yang bisa meyakinkan akhirnya saya putuskan untuk tidak menceritakan apa-apa saja sejarah yang aka di kampung tersebut.

namun untuk kamu yang memiliki jiwa petualang sejati, silahkan datang dan kunjungi lokasi tersebut. 







'' Salam Lestari ''






6 komentar:

keren bro

wahh... mantap gan, ini baru petualang...keren abizz dah, terus berkarya gan, semoga cerita perjalanannmu bisa membuat kita-kita ini semakin semangat.

Naim Rahim said...

amiiin, makasi dukungannya gan. salam lestari, sukses selalu untuk kita semua

yupss...sukses selalu pemuda

mantap.

Naim Rahim said...

siiip, moga bermanfaat gan